Serang - Cecep, salah seorang warga di kampung Cibetus, menceritakan bahwa dirinya memiliki ternak lele yang berada di samping rumahnya, dengan luas kolam sekitar 10 meter dan lebar 3 meter, kemudian ia menceritakan rata-rata penghasilannya yang dapat mencapai Rp.17.600.000 (Tujuh Belas Juta Enam Ratus Ribu Rupiah) dalam sekali panin, satu tahun bisa enam kali panin dengan total penghasilan Rp.105,600.000 (Seratus Lima Juta Enam Ratus Ribu Rupiah).
Baca Juga: Geger! Warga Kampung Cibetus Tolak Kandang Ayam, 9 Orang Ditangkap Polda Banten Secara Intimidatif
Semenjak akhir tahun 2023, pada saat konflik antar warga dan perusahaan memanas, Cecep menutup usahanya, ia mengungkapkan bahwa dirinya kini sudah tidak lagi memiliki usaha apapun, bahkan sekedar bekerjapun tidak. Dalam kurun waktu satu tahun, mestinya ia dapat memiliki keuntungan sekitar 105,600.000 rupiah, tapi apalah daya, ia yang kini kehilangan usaha dan pekerjaanya itu hanya dapat bertahan hidup dengan mengandalkan kuli serabutan.
Keterangan
(penghasilan perpanin x jumlah panin dalam satu tahun)
Rp. 17.600.000 x 6 = Rp. 105.600.000
Total kerugian yang di hasilkan dalam satu tahun mencapai Seratus Lima Juta Enam Ratus Ribu Rupiah.
Kemudian salah seorang ibu rumah tangga, Ibu Adah mengaku bahwa dirinya mengidap penyakit paru-paru setelah ia mendapatkan bukti rontgen dari dokter pada akhir tahun 2022, beliau menduga keras bahwa penyakit yang sekarang ia terima kemungkinan besar adalah buah hasil daripada kehadiran kandang, sebab sebelum adanya kandang ia tidak memiliki riwayat penyakit apapun, ungkapnya.
Baca Juga: Kronologis dan Perjuangan Warga Kampung Cibetus Dalam Mengusir Peternakan Ayam 2013-2024
Semenjak ia di diagnosis memiliki penyakit paru, ibu Adah selalu melakukan berobat jalan selama 2 tahun, biaya pengobatan perminggu berjumlah Rp. 1.000.000.
Keterangan
(biaya berobat perminggu x jumlah berobat selama dua tahun)
Rp. 1.000.000 x 2 tahun = Rp. 96.000.000
Total pengeluaran untuk berobat jalan Ibu Adah dalam 2 tahun berjumlah Rp. 96.000.000.
Di sisi lain masyarakat kampung Cibetus yang memiliki kebun tidak jauh dari peternakan mengaku, bahwa mereka kerap enggan untuk pergi mengelola kebun, hal ini di sebabkan karena bau menyengat yang di hasilkan peternakan dapat mengganggu aktifitasnya. Selama 10 tahun semenjak hadirnya peternakan, tingkat produktifitas masyarakat dalam mengelola kebun semakin menurun.